15 Juni, 2009

Anggur Dogler Rambah Dunia Surfing

Oleh: Wayan Nita
Majunya dunia surfing di Indonesia dan Bali khususnya tidak terlepas dari peran penting Kim Bradley. Bradley adalah pahlawan yang memperkenalkan surfing di Indonesia. Dalam rangka menghormati jasanya yang jatuh setiap tanggal 9 Mei, komunitas Magic Wave Surving Camphionship menggelar acara di pantai Kuta. Acara yang dihadiri ratusan peserta ini didukung Dogler, anggur kesehatan yang diproduksi PT Karya Pak Oles Tokcer.
Pande Putu Astana, Kepala Unit Pemaran Bali menyebut, para surfer merespon positif dengan hadirnya Dogler. Antusias peserta terlihat ketika menikmati Dogler sebelum surfing. Dogler ini sebenarnya minuman yang berkhasiat untuk menghangatkan tubuh. Karena Dogler diramu dengan bahan baku anggur hitam asli yang difermentasi dengan teknologi EM. Selain buah anggur organik, minuman kesehatan ini dicampur dengan rempah-rempah seperti jahe, cengkeh dan kayu manis. “Minuman kesehatan ini diproses secara higienis sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat,’’ kata Astana.
Anggapan minuman beralkohol mengganggu kesehatan tidak berlaku untuk penikmat Dogler. Dengan kadar alkohol di bawah 5%, anggur kesehatan ini juga aman dikonsumsi wanita. Karena dapat melancarkan haid, mengurangi bau tak sedap, mengurangi keluhan keputihan dan membantu menghaluskan kulit. Tapi pantangan untuk wanita hamil. Di bawah perusahaan yang dipimpin Ir Gede Ngurah Wididana, banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan konsumsi anggur ini adalah meningkatkan stamina, sebagai antioksidan, menghilangkan pegal, nyeri sendi dan merangsang proses regenerasi kulit. Konsumsi harus sesuai takaran (tiga kali sehari setelah makan cukup satu sloki).
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Baca Selengkapnya......

Perusahaan Jamu Diminta Genjot Promosi

Perusahaan jamu atau perusahaan yang memproduksi obat-obat tradisional diharapkan meningkatkan promosi dan memperhatikan mutu produknya.
‘’Untuk bisa bersaing dengan obat-obatan tradisional asing, perusahaan obat kita harus memperhatikan mutu produk. Dan, agar diterima pasar ekspor, promosi harus lebih ditingkatkan,’’ kata Kepala Seksi Potensi Pasar dan Ekspor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat Jonhanis, di sela-sela pameran produk dan teknologi pertanian, di Jakarta Convention Center, Sabtu (6/6).
Hingga saat ini masih banyak perusahaan jamu yang belum mendaftar untuk mendapatkan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dari Badan POM. Dari 1.300 perusahaan jamu, hanya sekitar 30 perusahaan yang baru memperoleh sertifikat CPOTB. Padahal sertifikat ini sangat penting demi peningkatan mutu dan tingkat keamanan obat yang diproduksi.
Melalui CPOTB, Badan POM berharap mutu, sanitasi dan higiene obat yang diproduksi benar-benar terjaga, dengan menerapkan standar-standar yang ditetapkan.
‘’Jangan sampai produk obat yang diproduksi kotor, karena pekerja tidak pakai masker, tidak menggunakan sarung tangan dan persyaratan yang ditetapkan lainnya. Kadang-kadang obat yang diproduksi memang bersih secara kasat mata, namun ternyata tidak bebas dari mikroskopik,’’ katanya.
Selama ini Badan POM tidak pernah mempersulit perusahaan yang mengajukan izin untuk mendapatkan sertifikat karena Badan POM menetapkan persyaratan minimal. Ada persepsi selama ini mengurus CPOTB mahal, sehingga perusahaan enggan mengurusnya. Padahal anggapan itu tidak benar. Kepada perusahaan yang sudah mengantongi izin CPOTB agar benar-benar mematuhi prosedur dalam produksi sesuai standar yang ditetapkan Badan POM. ‘’Jangan sampai saat audit saja prosedur diikuti, namun setelah inspeksi tidak diperhatikan lagi,’’ katanya.
Menyangkut ekspor, dia mengakui sejauh ini produk-produk obat tradisional Indonesia masih kalah bersaing dengan produk negara lain seperti Cina. Karena itu, promosi mesti jadi perhatian. Kalau tidak promosi bagaimana orang bisa tahu produk.
Untuk itu, dia mengajak kepada perusahaan jamu Indonesia untuk ikut dalam pameran yang digelar di Cina pada Oktober. Pada pameran produk dan teknologi pertanian, 4-7 Juni di Jakarta, Badan POM menampilkan berbagai jenis tanaman obat tradisional Indonesia seperti biji makassar yang berkhasiat mengobati diare, antipiretik, antelmintik brotoli dan antidiabetes.
Selain itu cakar ayam yang bisa menyembuhkan diare dan keputihan, jahe merah sebagai penambah nafsu makan, dan kecombrang sebagai antioksidan. Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Jamu Charles Saerang mengatakan, saat ini Indonesia masih tumbuh subur 30 ribu spesies tanaman potensial yang berkhasiat obat dan belum diteliti. Sebanyak 300 spesies sudah dinyatakan sebagai tanaman obat yang memiliki benefit, dan baru 100 spesies yang sudah diolah menjadi jamu.
Menurut Charles, ada lima spesies tanaman obat yang menjadi unggulan dan perlu diperhatikan pemerintah pengembangan risetnya yakni jahe, temu lawak, pegagan, sambiloto, dan kencur. Pemerintah diharapkan melindungi obat-obat tradisional Indonesia dari gempuran obat-obatan dari China. ‘’Banyak obat-obatan Cina yang membanjiri produk dalam negeri, sementara ekspor obat-obatan kita dipersulit masuk ke Cina,’’ ujarnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Baca Selengkapnya......
 
© Copyright by KORAN PAK OLES  |  Desain kerjasama Pak Oles Center dan Rohman | Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang